Menyikapi Kejang Demam dengan Tenang
INFO KESEHATAN : .
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih yang disebabkan proses di luar otak. .
Sebagian besar kejang demam merupakan kejang umum: mata mendelik atau terkadang berkedip-kedip, kedua tangan dan kaki kaku, terkadang diikuti kelojotan, dan saat kejang anak tidak sadar tidak memberi respons apabila dipanggil. Setelah kejang anak sadar kembali. Umumnya kejang demam akan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 5 menit dan tidak berulang lebih dari satu kali 24jam. .
Apa yang harus dilakukan bila anak kejang? DONT PANIC!
1. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan pecah-belah.
2. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut agar terhindar dari bahaya tersedak.
3. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut, akan berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila luka.
4. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan secara paksa, karena dapat terjadi patah tulang.
5. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter.
6. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
7. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. .
Apakah kejang demam membuat anak menjadi bodoh?
Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak. Biasanya kejang demam menghilang setelah anak berusia 5-6 tahun. Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam akan tumbuh dan berkembang secara normal tanpa adanya kelainan.
.
Walau tampak menakutkan, umumnya kejang demam tidak berbahaya, tidak merusak otak, tidak mengganggu kecerdasan anak, dan akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia. Dengan demikian, ayah bunda tidak perlu terlalu khawatir apabila buah hatinya mengalami kejang demam. .
Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia, @dokter_id
Penulis : Amanda Soebadi